05-05-2017 | Politik

Kafir Mana Boleh Jadi Pejabat Di Sini

Mau jadi apa Ahok setelah tak lagi jadi gubernur DKI akhirnya terjawab. Pemilik nama Basuki Tjahaja Purnama ini akan berhenti dari dunia politik, tak ingin jadi menteri atau cawapres.

Padahal tak sedikit yang menggadang-gadang Ahok untuk mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Ahok bilang ingin menjadi pembicara. Kenapa mau jadi pembicara? Sambil bercanda dia bilang, kafir mana boleh jadi pejabat di sini.

Setelah tak lagi ngantor di Balaikota Oktober nanti, Ahok otomatis jadi pengangguran. Publik pun bertanya-tanya mau jadi apa dia setelah tak lagi jadi gubernur. Ada yang berharap Ahok jadi menteri, atau bahkan bisa menjadi cawapres mendampingi Jokowi di Pilpres nanti. Jika tak jadi menteri, ada juga yang berharap Ahok tetap jadi pejabat. Apalagi dia sempat menyampaikan keinginannya jadi Kepala Bulog.

Namun, soal urusan masa depannya itu, Ahok selalu berahasia. Dia memang sempat memberikan bocoran. Menurutnya, setelah lengser ingin mengajak keluarga liburan. Ke mana liburannya, dia juga tak merinci. Ditanya apakah akan jadi menteri, berkali-kali Ahok menggeleng. “Menteri kan bukan hak saya,” ujarnya.

Baru kemarin, Ahok menyampaikan keinginannya setelah tak lagi jadi gubernur. Eks Bupati Belitung Timur ini menyatakan tak mau jadi pejabat. “Setelah ini, saya tidak mau masuk partai politik, tidak mau jadi menteri, tidak jadi staf presiden, semuanya tidak. Saya mau jadi pembicara saja. Kita ngajar saja jadi pembicara,” kata Ahok di Balaikota, kemarin.

Dia menepis kabar yang menyatakan akan diangkat jadi menteri oleh Jokowi. Keputusannya sudah bulat. Selesai jadi gubernur, Ahok ingin jadi pembicara. Dia bahkan mengaku sudah berbicara dengan salah satu stasiun televisi untuk membuat acara “Ahok Show”. Pembayaran bukan per episode, tapi sistem bagi hasil. “Jadi, kalau terima pemasukan dari iklan, saya dibagi lah, 20 atau 30 persen,” kata Ahok.

Beneran tak mau jadi cawapres mendampingi Jokowi di Pilpres nanti atau menteri seperti kabar yang beredar? Begini jawaban Ahok. “Mau jadi gubernur saja susah, mau jadi wapres. Kafir mana boleh jadi pejabat di sini,” ujar Ahok, sambil tertawa.

Ahok memang menyampaikan soal itu sambil bergurau. Namun di dunia maya, banyak yang meyakini masih ada diskriminasi kepada pihak minoritas untuk menempati jabatan publik. Pakar komunikasi politik dari UIN Prof Andi Faisal Bakti menyatakan, apa yang disampaikan Ahok dalam psikologi komunikasi sebagai ungkapan menghibur diri. Ucapannya tak lepas dari anggapan Ahok yang berpikir kekalahan di Pilgub DKI lalu gara-gara isu Al-Maidah 51 yang isinya larangan memilih pemimpin kafir.

Padahal kalau mau dirujuk, isu itu mencuat tak lain dari omongannya sendiri di Pulau Seribu. Karena omongannya itu juga, tak hanya orang Jakarta yang tumpah ruah ke jalan. Tapi dari berbagai daerah. “Jika mau dikaitkan, Ahok menyesal karena omongannya sendiri dan kemudian dia menghibur diri,” kata Andi, saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam. +Namun jika dilihat dari komunikasi sosial, Andi menilai apa yang disampaikan Ahok sangat sensitif, meski disampaikan dalam suasana bercanda. Padahal karena isu-isu sensitif seperti inilah, Ahok tumbang. Omongannya jadi bumerang, memukul ke arahnya sendiri.

Andi bilang, jika bicara soal kafir dalam konteks Ketuhanan Yang Maha Esa sama dengan tidak percaya kepada Tuhan. Dalam Pancasila, setiap agama diakui. Artinya agama mana pun punya hak yang sama termasuk mencalonkan diri jadi kepala daerah. Namun berbicara demokrasi, maka berbicara mayoritas. Yaitu siapa yang paling banyak dipilih oleh rakyat atau 50 plus satu.

“Siapa yang paling banyak itu yang menang,” ujarnya. Kebetulan dalam Pilgub DKI isu agama mencuat. “Jadi omongan Ahok sama artinya dengan mana mungkin orang luar Jawa jadi presiden. Tidak mungkin, karena mayoritas ada di Jawa. Dan itu realita demokrasi,” ujarnya.

Pengamat politik dari UIN Pangi Syarwi Chaniago melihat sisi lain kenapa Ahok bisa tumbang di Pilgub DKI. Dia menilai, fenomena kekalahan Ahok ini memang tak lazim. Apalagi tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Ahok mencapai 75 persen. Lalu kenapa Ahok kalah? Pangi bilang bukan karena faktor SARA.

foto via detik

Dia menjelaskan petahana termasuk Ahok terlalu sering membanggakan kinerja, capaian dan prestasi berbasis data statistik dan angka semata. Tapi lupa bagaimana menjawab keinginan rakyat sambil menjaga agar publik tenang.

“Jadi pesan kepada para incumbent di Pilkada 2018, jangan mengecewakan rakyat dengan mengabaikan keinginan rakyat. Jangan bermain di zona maha sensitif yang memantik sentimen negatif, polemik dan memantik kebisingan,” kata Pangi, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. ***|rmol

pl31


Dapatkan secara gratis artikel unik,dan terheboh setiap hari!
loading...
Click to comment

# Terkini

gsr


Copyright © 2016 Suarahati.net By Fhazia Balqis

To Top